Our Newsletter


 

Blog

Indonesia

Smart Jakarta, for a smarter us

Jakarta smart city

Tak bisa kita pungkiri, kota Jakarta telah benar-benar membenahi dirinya dalam beberapa tahun belakangan ini. Gedung gedung perkantoran, shopping malls bertaraf international, dan berbagai merek-merek ternama dunia telah melebarkan sayapnya ke ibukota. Namun, apakah yang terbesit di benak Anda ketika ditanya pendapat Anda mengenai kota Jakarta? Setidaknya beberapa dari kalian akan menyebutkan kemacetan yang luar biasa di kota Jakarta sebagai ciri khas dari kota Jakarta ini. MACET. Memang kemacetan lalu lintas tampaknya sudah menjadi hal yang mendarah daging bagi penduduk kota Jakarta. Antrean kendaraan yang tak kunjung mencair, terutama pada jam-jam sibuk seperti jam berangkat sekolah dan jam pulang kerja memang telah menjadi santapan sehari-hari bagi kita semua. Akan tetapi, pernahkah Anda terpikir bahwa kota Jakarta menduduki peringkat tertinggi di dunia dalam tingkat kepadatan lalu lintas?

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh perusahaan oli Castrol, Jakarta merupakan kota dengan tingkat kepadatan lalu lintas tertinggi di dunia. Studi tersebut merilis bahwa rata-rata pengemudi di Jakarta mematikan dan menyalakan mesin sebanyak 33.240 kali per tahunnya. Angka yang sangat mencengangkan tentunya.

Seperti dikutip dari Presiden Jokowi, beliau menyatakan bahwa berdasarkan laporan yang diterimanya, kemacetan telah membuat Jakarta kehilangan sekitar 35 triliun setiap tahunnya. Berbagai upaya telah ditempuh untuk mengatasi permasalah kemacetan di Jakarta, termasuk di antaranya penghapusan sistem 3in1 di Jakarta, dan juga peningkatan jumlah armada Transjakarta untuk mengurangi penggunaan mobil pribadi di ibukota. Selain daripada berbagai peraturan baru yang diambil oleh pemerintah DKI Jakarta demi mengurangi kepadatan lalu lintas, tampaknya sudah waktunya bagi pemerintah Jakarta untuk memulai pemanfaatan teknologi informasi dan IoT (Internet of Things) untuk mengatasi permasalahan tata kota di Jakarta. Perkembangan teknologi di masa depan, khususnya IoT, akan memungkinkan adanya komunikasi antara mobil-mobil yang beroperasi untuk mengontrol tingkat kepadatan di jalan raya.

Kita dapat berkaca kepada kepada Inggris, yang merupakan salah satu negara pertama di Eropa yang mendukung pengaplikasian program M2M (Machine to Machine). Program ini memungkinkan adanya Artificial Intelligence, dimana mobil-mobil saling berkomunikasi satu sama lain melalui koneksi Wi-Fi. Pertama-tama, sensor akan dipasangkan pada mobil dan juga di berbagai tempat di titik-titik rawan kemacetan di jalan raya. Sensor ini akan memonitor tingkat kepadatan lalu lintas dan mengirim informasi kepada sistem pusat untuk diproses lebih lanjut, dan kemudian disebarluaskan kepada para pengemudi di jalan raya. Apabila tingkat kepadatan cukup tinggi, sistem pusat akan memberikan informasi via Wi-Fi untuk menetapkan batas kecepatan maksimum bagi para pengendara, dengan tujuan untuk menghindari menumpuknya kendaraan di berbagai titik rawan kemacetan.

Dengan adanya ‘smart transport system’ ini, tingkat kemacetan lalu lintas di Inggris telah berkurang sebanyak 15%. Terlebih lagi, sistem ini juga mampu menghemat sebesar lebih dari 1 juta poundsterling setiap tahunnya. Mengikuti trend tersebut, beberapa negara di Asia termasuk di antaranya Jepang telah mulai mengikuti jejak untuk mengeksplorasi lebih dalam penggunaan IoT (Internet of Things) untuk mengatasi tingkat kemacetan lalu lintas. Memang sekarang saatnya bagi ibukota kita untuk ikut serta dalam pembenahan tata kota dalam rangka mewujudkan kota Jakarta yang bebas kemacetan.


By Admin | May 1st, 2017

Comments Section

Leave Comment

Your email address will not be published.